Isra’ Mi‘raj adalah peristiwa monumental dalam sejarah Islam yang mengandung pesan spiritual sekaligus moral. Perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra’) dan naik ke Sidratul Muntaha (Mi‘raj) bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan simbol transendensi manusia menuju kesempurnaan iman dan amal.
- Dimensi Spiritual: Isra’ Mi‘raj menegaskan pentingnya shalat sebagai tiang agama, yang menjadi inti dari hubungan manusia dengan Allah.
- Dimensi Moral: Peristiwa ini mengajarkan disiplin, integritas, dan komitmen terhadap amanah.
- Dimensi Sosial: Isra’ Mi‘raj mengingatkan umat Islam untuk membangun peradaban yang berlandaskan nilai ilahiah, bukan sekadar pencapaian material.
Pada 12 Januari 2026, Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Suska Riau mengangkat filosofi Isra’ Mi‘raj sebagai inspirasi dalam menjalankan tugasnya. Ada benang merah antara peristiwa spiritual ini dengan misi penjaminan mutu akademik:
- Shalat sebagai Standar Mutu: Seperti shalat yang menjadi standar utama ibadah, LPM menegakkan standar mutu akademik sebagai tiang keberlangsungan universitas.
- Integritas Nabi sebagai Teladan: LPM menekankan kejujuran, akuntabilitas, dan konsistensi dalam setiap proses evaluasi, benchmarking, dan dokumentasi.
- Mi‘raj sebagai Simbol Peningkatan: Mi‘raj mengajarkan peningkatan kualitas menuju kesempurnaan. LPM menafsirkan ini sebagai dorongan untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
- Keterhubungan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa: Menjadi simbol kolaborasi dan jaringan. LPM UIN Suska Riau menekankan pentingnya kerja sama antar fakultas, lembaga, dan mitra eksternal untuk mencapai mutu unggul.
“Isra’ Mi‘raj mengajarkan kita bahwa peningkatan kualitas bukan sekadar target administratif, melainkan perjalanan spiritual dan moral. LPM berkomitmen menjadikan nilai-nilai ini sebagai ruh dalam setiap kebijakan mutu.”

